Minggu, 18 Februari 2018

Ulasan Film: Chrisye



Bukan tentang Chrisye yang begitu menguasai dan mendalami setiap lirik nyanyiannya. Bukan pula soal Chrisye yang selalu berhasil membius para pendengar dengan suara khas yang menyenandungkan banyak lagu melegenda.

Film Chrisye justru mengangkat sosok maestro yang tak percaya diri, selalu resah gelisah, galau, bimbang, dan banyak pikiran. Chrisye dari sudut pandang sang istri, Damayanti Noor, anak-anaknya, orang tua, rekan dan sahabat.

Biopik Chrisye menyoroti babak-babak kehidupan sang bintang sedari bergabung bersama band Gipsy hingga kematiannya. Dari 1973 sampai 2007, 10 tahun yang lalu.



Dalam durasi satu jam 50 menit, penggalan penting kisah hidup Chrisye diceritakan. Melompat dari tahun ke tahun dengan alur cerita yang mengalir lewat arahan sutradara Rizal Mantovani.

Berawal dari sebuah pesta anak gaul Jakarta, Chrisye, yang diperankan Vino G Bastian, tampil menghibur di sebuah perayaan ulang tahun. Di pesta itu, Chrisye bertemu dengan Yanti, yang dilakoni oleh Velove Vexia.

Suasana pesta membuat penonton diajak kembali keera 70-an, lewat lagu dan gaya busana yang menonjol. Cutbray dan warna-warna mencolok. Namun, beberapa dandanan sayangnya tampak telalu berlebihan seperti Yanti yang terlihat tua. 



Riasan rambut para pemainnya juga tak begitu kentara. Terlihat jelas wig disematkan dan tak menyatu dengan para pemain seperti rambut Vino, Teuku Rifnu Wikana sebagai Gauri Nasution dan Pasha Chrismansyah sebagai Vicky.

Di sisi lain, penggunaan bahasa di era 70-an dalam keluarga Chrisye patut diapresiasi. Keluarga Chrisye yang berasal dari kalangan menengah ke atas dan keturunan Tionghoa itu menggunakan sapaan Mami, Papi, yey, dan eik yang menggelitik. Kata yey dan eik itu pernah populer pada tahun itu.

Semakin cerita mengalir dari tahun ke tahun, Vino semakin mendalami perannya sebagai Chrisye. Rambut yang tadinya urakan kini kian menyatu. 



Perubahan usia dari tahun ke tahun juga tampak jelas. Gaya bahasanya, gerakan badan hingga ekspresi Vino semakin mencerminkan sosok Chrisye. Dari yang awalnya tampil tak meyakinkan, Vino berhasil masuk dan menjiwai figur Chrisye. Begitu pun dengan Velove. Melihat Velove berakting seolah melihat sosok Yanti yang sesungguhnya.

Bicara soal kehidupan Chrisye, tentu tak bisa lepas dari musik dan karyanya. Beberapa lagu hit Chrisye pun turut menghiasi lagu ini. 



Karakter-karakter itu dibuat mirip dengan tokoh aslinya. Beberapa berhasil mengundang gelak tawa. Seisi bioskop bahkan sayup-sayup ikut bernyanyi lirih saat Lilin-Lilin Kecil bersenandung. Begitupun saat Aku Cinta Dia dan Ketika Tangan dan Kaki Berkata dinyanyikan. Seolah membuat film Chrisye menjadi film musikal. Walau porsi musiknya masih terlalu sedikit untuk dibilang film musikal.

Lagu-lagu itu dinyanyikan dengan suara asli Chrisye. Saat Vino beradegan menyanyi, suara Chrisye di-lypsinc.

Film Chrisye semakin lengkap dengan peran beberapa tokoh penting dalam karier Chrisye. Seperti karakter Guruh Soekarnoputra yang diperankan Dwi Sasono, Roby Tremonti sebagai Jay Subiakto, Irsyadillah sebagai Addie MS, Andi Arsyil sebagai Erwin Gutawa, Tria The Changcuters sebagai Eddy Sud, Fuad Idris sebagai Taufik Ismail, dan beberapa petingga Musica Studio.




Sedikit catatan untuk pemain figuran yang belum tampak natural banyak terlihat di beberapa adegan dalam film Chrisye. Film tentang keluarga, tanggung jawab dan mimpi seorang Chrisye ini bisa disaksikan di layar lebar mulai 7 Desember. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar